Rabu, 11 Agustus 2010

laporan pbhp

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
PENGETAHUAN BAHAN HASIL PERTANIAN













NAMA : YULIA RAHMA
NO.BP : 07117002
KELOMPOK : I (SATU)
SHIFT : I (SATU)
REKAN KERJA : 1. RIFANDI SIBURIAN (03117053)
2. YESTI AFNITA (07117001)
3. KARMELA PUTRI (07117003)
4. FEBRI RAWITRA (07117009)
5. FITRI NURAHMADANI (07117022)
6. MAHARONI PRATAMA (07117023)









JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2009

BAB I
PENDAHULUAN

Bahan pangan merupakan semua jenis bahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan yang bersifat aman, memiliki palatabilitas dan menyehatkan bagi manusia. Namun, walaupun sifat dasar dari pangan itu baik, jika penanganannya kurang baik maka akan menyebabkan terjadinya suatu penyimpangan yang mungkin dapat membahayakan bagi yang mengkonsumsinya.
Bahan pangan secara umum dibedakan atas dua golongan yaitu: bahan pangan nabati dan bahan pangan hewani. Bahan pangan nabati dapat berupa daun, bunga, akar, batang, umbi, buah, biji atau bagian-bagian tanaman yang lain.bahan pangan hewani pada umumnya yang mengandung protein dan lemak.
Serealia atau padi-padian termasuk tumbuhan keluarga rumput-rumputan (Gramineae) yang menghasilkan bulir-bulir berisi biji-bijian. Tanaman serealia yang utama adalah gandum, jagung,padi,barli, oats, rongge, dan sorgum.
Sayur dan buah merupakan hasil holtikultura yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Holtikultura yaitu : golongan tanaman yang dibudidayakan secara intensif karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi,pemasak vitamin, mineral dan serat.
Bahan pangan hasil hewani mempunyai sifat khas tersendiri yang berbeda dengan bahan pangan nabati, perbedaan sifat tersebut antara lain;
a. Umumnya tidak punya daya tahan atau daya simpan yang lama terutama apabila bahan tersebut dalam keadaan segar.Hal itu disebabkan karena bahan hewani banyak mengandung air yang merupakan komponen utama bagi pertumbuhan mikroba.
b. Umumnya lunak, tidak tahan terhadap tekanan dan hantaman.
c. Sifat masing-masing bahan sangat spesifik dan sangat sukar diadakan generalisasi.
d. Merupakan sumber protein dan lemak.
Yang termasuk jenis pangan hewani antara lain telur, susu, daging dan produk-produk olahan dari bahan tersebut. Susu dan telur merupakan produk hewani yang merupakan bahan hasil pertanian yang memiliki nilai gizi yang tinggi. Susu merupakan cairan koloid agak kental yang berwarna putih sampai kekuningan, tergantung jenis hewan, makanan dan jumlah susu.
Telur dihasilkan oleh hewan tertentu dalam berkembang biak dalam menjaga kelangsungan kehidupannya. Telur adalah hasil pembuahan sel telur pada hewan betina oleh sperma dari hewan jantan, sehingga telur merupakan calon hewan dewasa. Untuk membesarkan calon anak itu induk memberikan bekal makanan yang terbungkus rapi disekitar embrio itu berkembang dan inilah yang dikenal dengan telur. Jadi telur ini sebenarnya adalah cadangan makanan untuk embrio.
Bahan hasil perikanan yang paling banyak dikonsumsi adalah ikan dan menjadi salah satu hasil sumber daya alam potensial karena merupakan suatu produk yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani yang paling baik. Ini didukung dari kandungan protein yang cukup tinggi dan komposisi asam amino yang lengkap. Pemanfaatan ikan dibagi dalam bahan pangan segar, dikalengkan, dikeringkan dan diasinkan, yang menggunakan kira-kira ⅔ dari hasil penangkapan keseluruhan dan sisanya ⅓ digunakan untuk tepung ikan untuk makanan ternak dan pembuatan minyak ikan.
Komoditi hasil kebun dapat dibedakan atas tiga kelompok yaitu kelompok bahan pangan seperti gula dan kelapa, kelompok penyegar seperti teh, kopi dan coklat serta kelompok non bahan pangan atau disebut sebagai tanaman industri karet dan kina. Penghasil gula yang terkenal adalah tebu, meskipun kelapa, aren, siwalen, nira sagu, kurma dan bit juga penghasil gula. Gula banyak digunakan sebagai pengawet buah-buahan dan sayuran, juga sebagai bumbu untuk produk daging. Dalam pembuatan minuman yang difermentasikan dengan penambahan rum untuk memberikan rasa manis pada roti dan kue, pembuatan minuman ringan dan sebagai penyegar, pembuatan selai dan jeli, sebagai unsur penambah kalori dan masih banyak fungsi lainnya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 BIJI-BIJIAN DAN KACANG-KACANGAN
Kacang-kacangan dan biji-bijian adalah salah satu bahan pangan potensial. Bahan pangan tersebut beserta produk olahannya sangat mudah dijumpai di mana-mana. banyak dari bahan pangan yang berkhasiat untuk kesehatan. Kedelai, misalnya, ternyata mengandung isoflavon yang berkhasiat sebagai antioksidan dan dapat mencegah osteoporosis. Biji selasih tidak sekadar nikmat dan menyegarkan saat dikonsumsi, tetapi ternyata mempunyai efek mendinginkan, terutama pada mereka yang merasa panas dalam atau menderita radang (Made Astawan, 2009).
Bijian adalah bahan pangan paling mendasar untuk manusia dan hewan. Kandungan pati yang tinggi pada bijian menyediakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan, selain kandungan protein dan lemaknya. Padi, jagung, dan gandum adalah bijian utama sumber pangan dan telah menjadi makanan pokok sejak awal peradaban manusia. Termasuk dalam bijian adalah serealia (padi, jagung, gandum, sorgum, dll.), kacangan (kacang tanah, kacang hijau, dll.), dan bijian berlemak tinggi (kedelai, dll.) (anonim,2009).
Bijian merupakan bahan pangan yang tahan lama karena tidak mudah rusak selama pengangkutan dan dapat mempertahankan mutunya dalam penyimpanan yang panjang jika telah diperlakukan dengan benar selama panen, pengeringan, dan penyimpanan. Kegagalan dalam menerapkan cara-cara dan prosedur yang baik dalam berbagai kegiatan penanganan pascapanen tadi dapat menyebabkan penurunan mutu yang cepat dan susut yang tinggi. Tingkat susut bijian juga dipengaruhi oleh faktor fisik, biologik, dan fisiologik dari bijian itu sendiri. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat susut bijian antara lain:

1. Faktor fisik, misalnya terjadi ketika:
 Panen, di mana kemungkinan terjadi ceceran bijian terutama jika panen dilakukan tanpa bantuan peralatan atau mesin yang tepat.
 Perontokan, disebabkan oleh adanya bijian yang tidak dapat dirontokan sehingga ikut terbuang bersama tangkai/malai tanaman
 Pengeringan, disebabkan oleh pengeringan yang tidak sempurna atau tidak merata sehingga banyak kerusakan atau yang tidak tergiling dengan baik saat penggilingan
 Pengangkutan dan penyimpanan, disebabkan oleh adanya produk yang tercecer akibat penggunaan kemasan yang tidak baik
2. Faktor biologik, misalnya serangga dan hama, yang dapat menyerang produk selama berada pada tanamannya atau selama dalam penyimpanan. Hama tikus misalnya, selain memakan produk, juga mencemari produk dengan kotoran dan kencing mereka.
3. Faktor fisiologik, hanya terjadi pada bijian dengan kadar air tinggi. Dengan demikian bila bijian telah dikeringkan hingga kadar air 13 – 14% kemungkinan tidak akan mengalami kerusakan akibat aktifitas fisiologis selama dalam penyimpanan (anonym,2009).
Serealia (Bahasa Inggris: cereal), dikenal juga sebagai sereal atau biji-bijian merupakan sekelompok tanaman yang ditanam untuk dipanen biji/bulirnya sebagai sumber karbohidrat/pati. Kebanyakan serealia merupakan anggota dari suku padi-padian dan disebut sebagai serealia sejati. Anggota yang paling dikenal adalah padi, jagung, gandum, dan sorgum (Wikipedia,2009)
Serealia atau padi-padian termasuk tumbuhan keluarga rumput-rumputan (family Gramineae) yang menghasilkan bulir-bulir berisi biji-bijian. Tanaman utama serealia adalah: gandum, jagung, padi, barli, oats, rogge, dan sorgum (Buckle, 1985)
Ditilik dari kandungan gizinya, serealia merupakan sumber serat yang disarankan oleh ahli gizi. Serat diperlukan tubuh, antara lain, untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan mengurangi risiko terkena penyakit jantung. Kandungan gizi terbanyak ialah karbohidrat, dan sisanya ialah protein dan vitamin B. Karena serealia hanya mengandung sedikit asam amino esensial dan rendah kalsium, maka untuk menyeimbangkan gizinya, sebaiknya disantap bersama susu, sayuran, dan buah (www.hanyawanita.com).
Menurut Buckle, 1985, Secara anatomi biji serealia terdiri dari:
1. Sekam, yang membalut biji itu sendiri
2. Dedak, yang mengelilingi endosperm dan benih
3. Benih, yang merupakan embryo.
4. Endosperm, yang merupakan bagian yang sangat penting untuk makanan.
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim Graminae atau Glumiflorae). Sejumlah ciri suku (familia) ini juga menjadi ciri padi, misalnya:
 berakar serabut,
 daun berbentuk lanset (sempit memanjang),
 urat daun sejajar,
 memiliki pelepah daun,
 bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa floret,
 floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret,
 buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis.


Jenis-jenis padi di pasaran
Padi pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.
[sunting] Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat.
[sunting] Padi wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.
Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar 'IR5' dan 'IR8', yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki 'darah' kedua kultivar perintis tadi (anonim, 2009).


3.2 HOLTIKULTURA
Buah dan sayuran merupakan komoditi pertanian yang sangat mudah mengalami kerusakan (perishable commodities), setelah proses panen dilakukan. Hal ini disebakan karena komoditi tersebut masih melakukan proses kehidupan sebagaimana lazimnya makhluk hidup lainnya, meskipun telah dipisahkan dari pohon induknya. Buah dan sayuran tersebut masih melakukan aktivitas pernapasan (respirasi) untuk kelangsungan kehidupannya dengan mengandalkan sumber energi yang tersedia didalam produk itu sendiri, dengan tidak ada lagi suplai dari luar seperti saat masih pada pohon induknya. Lambat laun sumber energi yang tersedia akan habis, selanjutnya buah dan sayuran tersebut pun akan sangat cepat mengalami penuaan, rusak dan tidak dapat dikonsumsi lagi. Laju kerusakan yang terjadi berbanding lurus dengan kecepatan respirasi yang dimiliki oleh buah dan sayuran segar bersangkutan. Semakin cepat laju respirasinya, maka semakin cepat pula terjadinya kerusakan pada buah dan sayuran tersebut (Muhammad Taufiq, 2008).
Menurut Soewedo hadiyoto, 1983, Pembagian golongan bahan pangan nabati berdasarkan sifat-sifat biologikbya hanya dapat digolongkan menjadi dua macam:
a. Klimaterik: bahan pangan yang berasal dari hasil-hasil pertanian yang menjelang masak (tua) aktivitas respirasinya turun.
b. Nonklimaterik: bahan pangan yang berasal dari hasil-hasil pertanian yang menjelang masak (tua) aktivitas respirasinya turun.
Selada dan pepaya alah contoh dari bahan pangan yang termasuk pada klimaterik. Sedangkan nonklimaterik contohnya nanas dan mentimun.
Pepaya adalah monodioecious' (berumah tunggal sekaligus berumah dua) dengan tiga kelamin: tumbuhan jantan, betina, dan banci (hermafrodit). Tumbuhan jantan dikenal sebagai "pepaya gantung", yang walaupun jantan kadang-kadang dapat menghasilkan buah pula secara "partenogenesis". Buah ini mandul (tidak menghasilkan biji subur), dan dijadikan bahan obat tradisional. Bunga pepaya memiliki mahkota bunga berwarna kuning pucat dengan tangkai atau duduk pada batang. Bunga jantan pada tumbuhan jantan tumbuh pada tangkai panjang. Bunga biasanya ditemukan pada daerah sekitar pucuk. Bentuk buah bulat hingga memanjang, dengan ujung biasanya meruncing. Warna buah ketika muda hijau gelap, dan setelah masak hijau muda hingga kuning. Bentuk buah membulat bila berasal dari tanaman betina dan memanjang (oval) bila dihasilkan tanaman banci. Tanaman banci lebih disukai dalam budidaya karena dapat menghasilkan buah lebih banyak dan buahnya lebih besar. Daging buah berasal dari karpela yang menebal, berwarna kuning hingga merah, tergantung varietasnya. Bagian tengah buah berongga. Biji-biji berwarna hitam atau kehitaman dan terbungkus semacam lapisan berlendir (pulp) untuk mencegahnya dari kekeringan. Dalam budidaya, biji-biji untuk ditanam kembali diambil dari bagian tengah buah (anonym, 2009).

Selada (Lactuca sativa) adalah tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun daerah tropika. Selada daun memiliki daun yang berwama hijau segar, tepinya bergerigi atau berombak, dan lebih enak dimakan mentah. Varietas selada daun yang baik antara lain new york, imperial, great lakes, dan pennlake. Selada (Lactuca sativa) memiliki penampilan yang menarik. Ada yang berwama hijau segar dan ada juga yang berwama merah. Selain sebagai sayuran, daun selada yang agak keriting ini sering dijadikan penghias hidangan (anonym,2009).


Buah dan sayuran mengalami perubahan selama penyimpanan tidak saja disebabkan oleh faktor yang ada pada buah dan sayur, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan penyimpanan, diantaranya suhu dan kelembapan. Dengan memperlihtakan faktor lingkungan selama penyimpanan, prosese kerusakan yang terjadi pada sayuran dan buah dapat diperlambat. Kerusakan dapat pula terjadi akibat aktivitas yang dilakukan oleh mikroorganisme. Setelah dipanen buah dan sayuran dicuci. Namun, sayangnya air yang digunakan kadanr berupa air sungai yang kotor. Akibatnya jasad renik terutama bakteri melekat pada buah dan sayuran dan menimbulkan proses pembusukan.( Hadiwiyoto Soewodo, 1994)
Selama penyimpanan timbul panas akan meaikkan suhu penyimpanan yang akan berpengaruh pada senescene hasil tanaman. Oleh karena itu; Diperlukan perlakuan-perlakuan khusus selama pengangkutan dan penyimpanan Pengendalian kearah senescence dan kerusakan fisiologis setelah panen (physiological diosorders). Dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hasil tanaman tetap akan memiliki nilai untuk dikonsumsi (Administrator, 2008).
Faktor – faktor yang mempengaruhi pematangan buah – buahan dan sayuran respirasi atau pernafasan adalah suatu proses pertukaran gas yang melibatkan proses metabolisme perombakan senyawa makromolekul (karbohidrat, protein, lemak) menjadi CO2, air dan sejumlah energi. Beberapa faktor yang mempengaruhi respirasi dikelompokkan kedalam faktor – faktor internal dan faktor – faktor eksternal. Pematangan buah – buahan dan sayuran dipengaruhi oleh kelayuan. Kelayuan merupakan proses normal yang terjadi pada tumbuhan karena mobilisasi zat – zat makanan untuk pertumbuhan biji aau buah. Beberapa hormon pada tumbuhan dapat menghambat / mempecepat proses kelayuan. Disamping respirasi dan kelayuan, etilen merupakan hormon tumbuhan yang dipengaruhi oleh hormon lainya dan cahaya. Selain pada pematangan etilen juga berpengaruh pada percabangan, kelayuan daun, perakaran, perbungaan, dan pertunasan. Aktivitas etilen dipengaruhi oleh suhu, hormon auksin, metalo-enzim, O2 dan CO2. (Anonim, 2005).
Untuk mengetahui sifat fisik buah dan sayur cukup hanya dengan mengamati ukuran, bentuk, struktur, warna, dan penampakan, sedangkan untuk mengetahui sifat kimia adalah dengan cara menguji bahan tersebut dengan bahan kimia sesuai dengan kandungan buah tersebut seperti iod 0,01N, NaOH 0,1 dan kanji 1%, lugol, pektin, dan lain – lain. Sehingga akan mengalami perubahan warna yang nantinya akan diketahui kandungan bahan tersebut dengan larutan Iod 0,01N berubah warna menjadi biru keungu – unguan. Hal ini menandakan bahwa didalam buah tersebut terdapat kandungan vitamin C.
Kebanyakan buah (hasil tanaman) yang sedang dalam proses pemasakan mengalami perubahan warna , yang berarti hilangnya klorofil wana semula dan berubah menjadi warna – warna baru. Perubahan aroma yang biasanya disertai dengan perubahan derajat asam, rasa asam dan rasa manis tergantung pada asam – asam organik, phenolik, gula dan zat – zat yang mudah menguap. Perubahan tekstur menjadi tua (menuanya) buah hasil tanaman mengalami proses lebih lanjut kearah kemunduran akibat aktifitas respirasi, dan akibat adanya gas etilen (Winarno, 2002).
Pengaruh timbulnya etilena terhadap hasil tanam menjadi masak dan menjadi tuanya hasil tanaman banyak di hubungkan dengan etilena. Etilena adalah suatu senyawa kimia yang mudah menguap yang di hasilkan selama proses masaknya hasil tanaman (terutama sayuran dan buah-buahan) produksi etilena erat hubungannya aktifitas respirasi . Aktifitas respirasi yaitu banyaknya penggunaan oksigen pada prosesnya , karena itu apabila produksi etilen banyak maka biasanya aktifitas respirasi itu meningkat dengan ditandai oleh meningkatmya penyerapan oksigen oleh tanaman (Administrator, 2008).

3.3 KOMODITI HASIL KEBUN

A. Hasil Kebun Penghasil Gula
Gula merupakan salah satu komoditi pangan yang penting. Saat ini sebagian besar industri gula di Indonesia menggunakan bahan baku tebu. Kebutuhan gula di Indonesia meningkat tiap tahunnya tetapi produksi gula nasional menurun tiap tahunnya. Penyebab penurunan ini antara lain adalah berkurangnya lahan tebu dan berkurangnya perolehan gula untuk tiap hektar tebu. Oleh karena itu perlu dicari sumber gula alternatif. Nira aren merupakan salah satu komoditi yang potensial menjadi sumber gula alternatif dalam upaya pemenuhan kebutuhan gula domestik. Salah satu cara untuk mendapatkan gula dari nira aren dalam bentuk partikel padat selain dengan cara kristalisasi adalah dengan menggunakan pengering semprot (Spray Dryer). Kendala yang terjadi adalah gula serbuk hasil pengering semprot memiliki sifat higroskopis dan lengket sehingga tidak dapat kering berbeda dengan gula hasil kristalisasi dimana gula yang didapat berupa kristal kering karena zat penyebab sifat higroskopis dan lengket tertinggal di mother liquor (Arief Fahmi, 2004)
.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan zat penyebab sifat higroskopis dan menghilangkan sifat higroskopis pada gula hasil pengeringan nira aren. Zat penyebab sifat higroskopis yang teridentifikasi dari hasil penelitian ini adalah fruktosa. Cara penghilangan sifat higroskopis pada gula hasil pengeringan nira aren dilakukan dengan penambahan zat aditif dan penghilangan fruktosa. Variasi penelitian yang dilakukan adalah variasi penambahan zat aditif yang berupa maltosa, variasi penambahan CaO, dan variasi penggunaan adsorben (Arief Fahmi, 2004)
. Hasil uji coba menunjukan bahwa penambahan maltosa dapat mengurangi pengaruh sifat higroskopis dengan baik. Upaya penghilangan zat penyebab sifat higroskopis dengan penambahan CaO dan penggunaan adsorben kurang memberikan hasil yang memuaskan (Arief Fahmi, 2004)
.
Nira merupakan bahan yang mudah sekali mengalami kerusakan.penyebab utama rusaknya adalah kontaminasi oleh mikroorganiusme khususnya khamir dan bakteri. Jeniss mikroorganusme tersebut adalah saccharomynces sp dan actobacter sp. Pada nira yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme, maka akan terjadi proses kontaminasi perombakan senyawa-senyawa penyusunnya. Karena fermentasi tersebut, maka sukrosa yang terdapat dalam nira akan berubah menjadi alkohol setelah itu akan berubah lagi menjadi asam asetat. Komponen lain yang terdapat dalam nira akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme penyebab kontaminasi untuk memacu pertumbuhan (Lutony 1993).
Nira hasil ekstraksi masih mengandung bermacam macm bahan dan kotoran. Karena itu nira itu keruh dan bergelembung. Agar gula yang dihasilkan berkualitas baik, maka nira ini harus dijernihkan. Penjernihan dapat dilakukan dengan mengunggunakn larutan kapur. Setelah diberi kapur, nira dipanaskan sampai kira-kira 50-60 C. pada suhu demikian, semua kotoran akan terpisah (anonim, 1992)
Kadar gula yang tinggi dan kadar gula yang rendah dalam nira menyebabkan kemurnian nira yang tinggi. Usaha untuk meningkatkan kemurnian inilah dilakukan pemurnian (purifikasi) nira, sehingga mutu nira yang baik (Gountara dan wijandi, 1975).
Nira yang sudah dibebaskan dari kotoran berwarna kuning muda dan jernih. Nira ini dipanaskan secara terus menerus. Semakin kental nira yang dimasak, warnanya semakin kuning dan buihnya semakin rendah. Setelah nira berwarna merah cokelat, dan masakan nira sudah banyak susutnya maka nira yang diangkat dan siap untuk dicetak (Anonim, 1992)
B. Hasil Kebun Yang Bersifat Koloid
Lateks merupakan cairan putih yang disebut getah dihasilkan dari penyadapan pohon karet (Havea Bransienlis) pada keadaan kering disebut karet yang dapat dibentuk berupa lapisan tipis berupa membran. Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah. Lateks dapat juga dibuat secara sintetis oleh polimerisasi sebuah monomer yang telah diemulsi oleh surfaktan (Anonym, 2009).
Santan atau santen adalah cairan putih kental yang dihasilkan dari kelapa yang diparut dan kemudian diperas bersama air. Santan mempunyai rasa lemak dan digunakan sebagai perasa yang menyedapkan masakan menjadi gurih. Pada masa dahulu, santan akan diperas dari kelapa yang diparut dan dicampur dengan air panas sebelum diperas. Pada masa kini, terdapat mesin pemeras santan bagi. Untuk penggunaan mesin, kelapa yang diparut tidak perlu dicampurkan dengan air, dan pati santan yang terhasil adalah 100% tulen. Terdapat juga santan instan atau siap saji dalam paket yang cuma perlu ditambah air panas sebelum digunakan (Anonym, 2009).
Minyak dalam santan terdapat dalam bentuk emulsi minyak air dengan protein sebagai stabilisator emulsi. Air sebagai pendispersi dan minyak sebagai fase terdispersi. Di dalam sistim emulsi minyak air, protein membungkus butir-butir minyak dengan suatu lapisan tipis sehingga butir-butir tersebut tidak dapat bergabung menjadi satu fase kontinyu. Butir-butir minyak dapat bergabung menjadi satu fase kontinyu jika sistem emulsi di pecah dengan jalan merusak protein sebagai pembungkkus butir-butir minyak. Dalam industri makanan, peran santan sangat penting baik sebagai sumber gizi, penambahan aroma, cita rasa , flavour dan perbaikan tekstur bahan pangan hasil olahan (Anonym, 2009).
Santan mengandung senyawa nonylmethylketon, dengan suhu yang tinggi akan menyebabkan bersifat volatil dan menimbulkan bau yang enak. Mengekstraksi santan dapat dilakukan pemerasan dengan tangan dan dilakukan penyaringan. Pemarutan merupakan tahap pendahuluan dalam memperoleh santa. Pemarutan bertujuan untuk menghancurkan daging buah dan merusak jaringan yang mengandung santan sehingga santan mudah keluar dari jaringan tersebut. Pemerasan dengan menggunakan tangan untuk memberikan tekanan pada hasil parutan dan memaksa santan keluar dari jaringan. Santan dapat mengalami destabilisasi oleh beberapa mekanisme destabilisasi yaitu : Pembentukan krim dan sedimentasi yang disebabkan oleh gaya grafitasi pada fase-fase yang densitasnya berbeda. Flokulasi atau pengelompokan ( clutering ), setelah flokulasi, globula lemak bergerak sebagai kelompok bukannya individu. Flokulasi tidak melibatkan kerusakan lapisan tipis antar permukaan, yang dalam keadan normal mengelilingi masing-masing globula, dan demikian tidak melibatkan perubahan ukuran globula asli. Muatan elektrostatik yang kurang cukup pada permukaan merupakan penyebab utama flokulasi. Koalesensi ( coalescence) yang melibatkan pecahnya lapisan tipis antar permukaan, penggabungan globula-globula, dan penurunan areal antar permukaan (Anonym, 2009).

C. Kopi
Kopi merupakan tanaman yang berasal dari Afrika dan Asia Selatan, dengan tinggi mencapai 5 meter. Daunnya sekitar 5-10 cm panjang dan 5 cm lebar. Bunga kopi yang berwarna putih berbunga bersamaan, buah kopi sendiri berbentuk oval panjangnya sekitar 1.5 cm, berwarna hijau kemudian kekuningan lalu hitam bila sudah digongseng. Biasanya buah kopi berisikan 2 buah biji, tetapi sekitar 5 – 10% mempunyai hanya 1 biji saja yang dinamakan “peaberries”. Biji kopi siap dipetik saat berumur 7 sampai 9 bulan (Anonym,2008).
Tanaman kopi termasuk dalam famili Rubiaceae dan terdiri atas banyak jenis antara Coffea arabica, Coffea robusta dan Coffea liberica. Kopi adalah sejenis minuman yang biasanya dihidangkan panas dan dipersiapkan dari biji tanaman kopi yang dipanggang. Saat ini, kopi merupakan minuman kedua yang dikonsumsi di seluruh dunia, setelah air. Kopi dianggap sebagai penyegar badan dan pikiran (Anonym, 2009).
Buah kopi tediri atas tiga bagian, yaitu :
1. lapisan kulit luar (excocarp)
2. lapisan daging (mesocarp)
3. lapisan kulit 'tanduk (endoscarp)
Kulit luar terdiri dari satu lapisan yang lebih tipis daripada buah yang masih muda bewarna hijau tua yang kemudian berangsur-angsur berubah menjadi hijau kuning, kuning dan akhirnya menjadi merah sampai merah hitam kalau buah itu telah masak sekali. Dalam keadaan yang sudah masak, daging buah berlendir yang rasanya agak manis. Keadaan kulit bagian dalam, yaitu endocarpnya cukup keras dan kulit ini biasanya disebut kulit tanduk (Anonym, 2009).
Jenis-jenis kopi
Secara garis besar kopi dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu :
A. Kopi Arabika
Kopi ini berdaun kecil, halus mengkilat, panjang daunnya 12-15 cm x 6 cm, panjang buahnya sekitar 1,5 cm.
B. Kopi Canephora atau Robusta
Daunnya besar, panjang daun lebih dari 20 cm x 10 cm, daun bergelombang. Panjang buahnya ± 1,2 cm.
C. Kopi Liberika
Beberapa varietas kopi liberika yang pernah didatangkan di Indonesia antara lain : Ardoniana, Durvei.

D. Golongan Ekselsa
Jenis ini banyak dibudidayakan orang di dataran rendah yang basah. Ciri khas kopi ini antara lain memiliki cabang primer yang bisa bertahan lama dan berbunga pada batang yang tua.
E. Golongan Hibrida
Kopi hibrida merupakan keturunan pertama hasil perkawinan antara 2 spesial atau varietas kopi, sehingga mewarisi sifat-sifat unggul kedua induknya.
Contoh kopi golongan Hibrida: Arabika x Liberika dan Arabika x Robusta.


3.4. UMBI-UMBIAN
Ubi kayu (nama botani: Manihot Esculenta Crantz) ialah tumbuhan tropika dan subtropika dari famili Euphorbiaceae yang terkenal sebagai sumber utama karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Ubi kayu dikatakan berasal dari bahagian tropika Amerika tetapi kini taburannya hampir di semua kawasan tropika seluruh dunia. Nama lain bagi ubi kayu adalah ubi benggala, ubi belanda, singkong (bahasa Indonesia) dan cassava (bahasa Inggeris) (Anonym, 2009).
Ubi kayu biasanya ditanam dengan keratan batang yang dicucuk ke dalam tanah. Ubi kayu senang ditanam dan akan menghasilkan akar pada bahagian batang yang dikambus dalam masa beberapa hari sahaja selepas ditanam. Hujung keratan yang terbenam dalam tanah akan mula menghasilkan banyak akar antara dua hingga empat bulan selepas ditanam dan akar ini pula akan menghasilkan ubi. Ubi kayu biasanya dituai antara sembilan hingga 12 bulan (Anonym, 2009).
Ubi kayu sering menjadi makanan pilihan apabila berlaku masalah mendapatkan sumber makanan biasa, seperti ketika musim tengkujuh atau malapetaka awam, atau semasa peperangan seperti semasa Perang Dunia II.Pada masa biasa, ubi kayu hanya dimakan sekali-sekala atau dijadikan sebagai kuih. Kulit ubi kayu mempunyai asid hydrocyanic (asid hidroklorik dan potasium sianida atau sodium sianida (hydrocyanic). Oleh itu ubi kayu tidak boleh dimakan mentah, tetapi perlu dibuang kulit dan dimasak terlebih dahulu(Anonym, 2009).
Ubi kayu boleh digoreng, direbus atau dibakar, dan dimakan bersama kelapa parut muda (nyiur kulit hidup), ikan masin, atau ikan bakar. Ubi kayu juga boleh dibuat kuih, antaranya kuih puli ubi kayu, kuih ubi kayu, tapai ubi, kerepek ubi dan yang seumpama dengannya. Ubi kayu ditanam secara komersial untuk menghasilkan tepung ubi. Tepung ubi kayu juga digunakan dalam industri makanan setelah ia diproses menjadi monosodium glutamat (MSG) terutama di negara Timur Jauh dan Amerika Latin. Untuk menghasilkan satu tan MSG, ia memerlukan lebih kurang 2.4 tan tepung ubi kayu atau tepung kanji. Pokok ubi kayu juga boleh digunakan bagi mengatasi masalah lalang, di mana kawasan yang ditanam ubi kayu akan menutup permukaan tanah dari cahaya matahari, dengan itu menghalang lalang daripada tumbuh kembali (Anonym, 2009).



3.5 PRODUK HASIL TERNAK
A. TELUR
Telur merupakan sumber protein hewani yang baik, murah dan mudah didapat. Di tilik dari nilai gizinya, sumber protein telur juga mudah diserap tubuh, baik untuk konsumsi anak-anak hingga lansia. Setiap 100 g telur mengandung 12-13 g protein. Selain protein, beragam vitamin, lemak dan mineral esensial juga terkandung di dalam telur. Berikut tip cara memilih, menyimpan dan mengolah telur (Budi Sutomo, 2007).
Memilih Telur:
1. Karena sifatnya yang tidak tahan lama, beli telur seperlunya. Ini baik untuk menghindari telur kedaluarsa
2. Ciri-ciri telur yang baik adalah, kondisi cangkang tidak retak, bersih dari kotoran yang menempel serta kontaminasi mikroba
3. Telur yang baik akan terlihat jernih, kuning telur berada di tengah ketika di teropong. Ciri lain telur yang baik adalah, tidak terapung ketika di rendam di dalam air.
4. Jika memungkinkan, beli telur di toko yang berpendingin, mengingat telur lebih mudah rusak di suhu ruang (Budi Sutomo, 2007).

Menyimpan Telur:
Menyimpan telur sebaiknya di dalam kulkas. Daya simpan telur di suhu ruang adalah 8 hari sedangkan di dalam kulkas bisa bertahan hingga 3 minggu. Setelah ini, kualitas telur akan menurun. Walaupun isi telur tersimpan di dalam cangkang, pori-pori kulit telur tetap bisa menyerap aroma dari luar. Karenanya, simpan telur tidak berdekatan dengan bahan pangan berbau tajam, seperti ikan, durian dan terasi.
Simpan telur di dalam rak dan balik setiap 2 hari sekali. Ini untuk menjaga kualitas telur tetap baik dan kuning telur tetap di tengah. Dari segi bentuk telur jika dilihat dari asal hewannya dapat dibedakan menjadi bermacam-macam mulai bentuknya yang bulat sampai yang berbntuk lonjong. Beberapa factor yang menimpa induk penghasil telur mempengaruhi bentuk telur, missal factor keturunan, umur induk ketika bertelur serta sifat fisiologisnya di dalam tubuh induk. Ukuran bentuk telur biasanya dinyatakan dengan indeks perbandingan antara lebar dan panjang dikalikan 100. (Hadiwiyoto,1983).
Factor yang mempengaruhi besar telur diantaranya :
- Jenis hewan
- Umur hewan
- Perubahan musim waktu bertelur
- Sifat turun menurun induk
- Umur pembuahan
- Berat tubuh induk
- Zat-zat makanan induk
Perbedaan warna telur juga dipengaruhi oleh jenis induk, seperti telur ayam berwarna putih, kuning sampai kecoklatan, sedangkan telur bebek berwarna biru langit atau berwarna biru telur asin. Kadang-kadang ada telur yang berbintik-bintik hitam atau bintik lain, hal tersebut disebabkan oleh kapang yang tumbuh pada permukaan kulit telur. (Syarief,1988).
Menurut Buckle (1987), struktur telur dibedakan atas 9 bagian yaitu :
1. Kulit telur dengan permukaan yang berbintik-bintik
2. Membrane kulit luar dan dalam yang tipis, berpisah pada ujung yang tumpul dan membentuk rongga udara
3. Putih telur bagian luar berupa cairan
4. Putih telur yang kental dan kokoh berbentuk kantung albumen
5. Putih telur yang tipis dan berupa cairan
6. Struktur keruh berserat yang terlihat pada kedua ujung kuning telur (khalaza)
7. Lapisan tipis yang mengelilingi kuning telur, dan disebut membrane fitelin
8. Benih atau bastodisc yang terlihat seperti bintik kecil pada permukaan kuning telur
9. Kuning telur, yang terbagi menjadi kuning telur yang berwarna putih berbentuk vas, dan kuning telur yang berlapis merupakan bagian terbesar
Telur biasanya mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, dan abu. Selain itu telur juga mengandung vitamin yang angat dibutuhkan kecuali vitamin C, kuning telur cukup tinggi kandungan kolesterolnya.
Telur memiliki sifat-sifat fungsional diantaranya:
1. Membentuk daya koagulasi telur ditandai dengan kelarutan atau perubahan bentuk dari sol ke gel (perubaham struktur dari protein karena asam garam, pereaksi garam seperti urea, suhu dan pH)
2. Membentuk daya buih (ecoming) dimana ada batas kemampuan albumin untuk merangkap gas, pembentukan buih dipengaruhi oleh keasaman atau pH, kadar gula, dan kadar garam
3. Membentuk daya emulsi (emulsifying properties), dalam emulsi ada yang pendispersi dan terdispersi, emulsifier ini harus bersifat polar dan non polar (penggabung), pada telur emulsifiernya adalah lesitin, kolesterol dan lesiprotein
4. Kontrol kristalisasi dimana pembentukannya teratur, bentuknya teratur, yang diatur adalah kepekatan gula dan suhu sehingga terjadi penguapan albumin dalam telur menutupi permukaan Kristal, sehingga penguapan turun dan mengurangi pembentukan Kristal
5. Pewarna, karena putih telur mengandung xantofil, lutein, betakaroten dan kriptoxantin. (Hadiwiyoto,1983).
Telur pada umumnya terbagi atas tiga bagian utama, yaitu :
- Kulit telur
- Putih telur
- Kuning telur
Perbandingan ketiganya berbeda tergantung jenis telurnya.
1. Kulit telur
Kulit telur biasanya terdiri atas 4 bagian utama pembentuk kulit telur yaitu:
a. Kutikula yang merupakan lapisan terluar yang menyelubungi seluruh permukaan kulit telur, lapisan ini sangat tipis dan dibentuk oleh protein yang berupa musin, pada telur ayam dan bebek tebalnya 3-10 mikron
b. Lapisan bunga karang yaitu bagian terbesar dari kulit terluar, letaknya di bawah kutikula, lapisan ini terdiri dari protein serabut yang berbentuk anyaman dan lapisan kapur yang terdiri dari kalsium karbonat, kalsium fosfat, magnesium karbonat dan magnesium fosfat
c. Lapisan magnolia yaitu lapisan ketiga pada kulit terluar, lapisan ini berbentuk bonggol-bonggol dengan penampang bulat atau lonjong
d. Lapisan membrane adalahlapisan yang paling dalam, terdiri dari 2 lapisan selaput yang berbentuk seperti kertas perkamen, ketebalannya sekitar 65 mikron. (Syarief,1988).

2. Putih telur
Putih telur terdiri dari 4 bagian yaitu :
a. Lapisan luar yang terdiri dari cairan kental yang mengandung beberapa serat musin
b. Lapisan tengah putih telur dinamakan albumin sac, biasanya merupakan anyaman musin berbentuk setengah padat
c. Lapisan dalam merupakan cairan kental yang hampir mengandung musin
d. Lapisan membrane halazifera yang besarnya 23,3; 57,3; 16,8 dan 2,7%. Disamping itu, putih telur b ersigfat alkalis dengan pH sekitar 7,6. (Syarief,1988).
3. Kuning telur
Kuning telur adalah embrio, khususnya yang dihasilkan oleh suatu proses pembuahan pada telur. Sehingga kuning merupakan bagian terpenting pada telur. Selain itu yang berfungsi menunjang kehidupan embrio, pH kuning telur sekitar 6 lebih asam daripada putih telur.(Syarief,1988).
Menurut Muchtadi (1992), telur yang normal segera setelah ditelurkan mempunyai mutu terbaik. Hal ini disebabkan keadaan kulit telur, besarnya ruang udara, kondisi putih telur dan kuning telur serta lembaga masih dalam keadaan normal.
Khususnya telur ayam dan bebek, sebagian besar terdiri dari air, sedangkan bagian padatnya terdiri dari protein, lemak, karbohidrat, dan mineral. (Hadiwiyoto,1983).
Penanganan telur bertujuan untuk memperlambat penurunan mutu dan kerusakan telur. Penyebab keturunannya adalah penguapan air, penguapan CO2 dan aktivitas mikroba, sedangkan factor-faktor yang memp[engaruhi kerusakan telur adalah :
- Waktu penyimpanan kotoran yang ada pada kulit telur
- Serta teknik penanganan dan alat yang digunakan dalam penanganannya. (Buckle,1985).
Menurut Buckle (1987), mutu telur utuh dinilai secara candling, yitu dengan meletakkan telur dalm sorotan sinar yang kuat sehingga memungkinkan pemeriksaan bagian dalam dengan candling. Mutu telur tanpa kulit dapat dinilai dengan cara yang lebih pasti karena banyak kerusakan oleh mikroorganisme dan lainnya dapat diamati dengan jelas.
Indeks kuning telur adalah perbandingan tinggi kuning telur dengan garis tengahnya yang diukur setelah kuning telur dipisahkan dari putih telur. Indeks kuning telur segar beragam antara 0,33-0,50 dengan nilai rata-rata 0,42. Dengan bertambahnya umur telur, indeks kuning telur menurun karena penambahan ukuran kuning telur akibat perpindahan air.
Indeks putih telur merupakan parameter yang serupa yaitu perbandingan tinggi albumin tebal dengan rata-rata garis tengah panjang dan pendek albumin tebal. Dalam telur yang baru ditelurkan nilai ini berkisar antara 0,05-0,174. Indeks putih telur juga menurun karena penyimpanan, hal ini terjadi karena pemecahan ovomucin yang dipercepat pada pH yang tinggi.


B. SUSU
Susu adalah hasil sekresi dari kelenjer susu hewan mamalia dan buakan kolesterum. Rata-rata untuk semua bangsa sapi komposisi susunya adalah :
a. air : 87,10%
b. lemak : 3,9%
c. protein : 3,4%
d. laktosa : 4,8%
e. mineral : 0,72%
Selain itu, susu mengandung vitamin-vitamin, enzim, gas, pigmen dan substansi non protein
Ciri-ciri susu segar :
 Tidak memiliki aroma yg kuat
 Ada sedikit rasa manis dr laktosa (gula susu)
 Warnanya putih sampai sedikit kekuningan (akibat larutan zat karoten dlm lemak susu)
 Belum terpisahnya lemak dg bagian susu yg lain
 Tidak terdapat lender
 Tidak ada penggumpalan protein susu yg sering terjadi jika susu mulai mengalami proses pengasaman.
Menurut Buckle (1987), sifat-sifat fisik dan kimiawi susu dibagi atas :
a. Kerapatan
Kerapatan susu berangsur-angsur meningkat dari saat pemerahan dan mencapai maksimum pada 12 jam setelah pemerahan. Meningkatnya kerapatan ini terutama disebabkan karena terbebaskannya gas-gas seperti : CO2 dan N2 yang terdapat di dalam susu yang baru saja diperoleh dari pemerahan.
b. pH
pH susu segar berada di antara pH 6,6-6,7. Perubahan nilai pH disebabkan oleh aktivitas buffer fosfat, sitrat dan protein yang biasanya ada dalam susu.
c. Sifat-sifat krim
Waktu yang diperlukan bagi naiknya krim dan tebalnya lapisan krim tergantung pada 3 faktor yaitu banyaknya lemak, besar kecilnya butiran lemak, dan sampai seberapa jauh perlakuan dengan pemanasan dilakukan terhadap susu.
d. Warna
Susu mempunyai warna putih kebiruan dan kuning kecoklatan. Warna putih pada susu serta penampakannya adalah akibat penyebaran butiran-butiran koloid lemak, kalsium kasein dan kalsium fosfat, da bahan utama pemberi warna kuning adalah karoten dan riboflavin.
e. Cita rasa
Rasa manis dari susu berasal dari laktosa, sedangkan rasa asin berasal dari klorida, sitrat dan garam mineral lainnya.
f. Penggumpalan
Penggumpalan dapat tejadi karena aktivitas enzim atau penambahan asam.
Susu merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan mikroba sehingga apabila penanganannya tidak baik akan menimbulkan penyakit yang berbahaya. Di samping itu susu merupakan bahan biologic, susu yang paling baik apabila mengandung jumlah bakteri sedikit, tidak mengandung spora mikroba pathogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa (flavour) yang baik dan tidak dipalsukan. Dipandang dari segi gizi susu merupakan bahan makanan yang paling sempurna dan merupakan makanan alamiah bagi binatang menyusui yang baru lahir. Susu merupakan cairan yang berbentuk koloid agak kental dan berasal dari hasil sekresi normal kelenjar susu pada hewan sehat secara teratur dan sekaligus (Hadiwiyoto,1983).
Berat jenis susu lebih besar dari berat jenis air, yaitu : sekitar 1,027-1,035. Berat jenis antara lain dipengaruhi oleh jumlah kandungan bahan yang terdapat di dalamnya. Apabila air membeku pada suhu 0 oC, susu akan membeku pada suhu -0,55 oC sampai 0,61 oC. Rendahnya titik beku pada susu karena adanya bahan-bahan yng larut dalam susu, seperti : gula laktosa dan mineral-mineral lainnya. Keadaan tersebut dapat dipergunakan sebagai indikator kemurnian susu. Beberapa percobaan mengemukakan bahwa setiap penambahan 1 persen air dalam 1 persen volume akan menaikkan titik beku sekitar 0,055 oC. Sebaliknya titik didih susu lebih tinggi dari titik didih air. Derajat keasaman susu diperkirakan sekitar 0,15-0,16%. Kenaikan derajat keasaman laktosa menjadi asam laktat. (Syarief,1988).
Tumbuhnya mikroba pada susu dapat menyebabkan kerugian atas penurunan mutu susu. Beberapa kerusakan pada susu disebabkan oleh mikroba di antaranya adalah : pengasaman, penggumpalan yang disebabkan fermentasi laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan turunnya pH dan kemungkinan terjadinya penggumpalan kasein, berlendir seperti tali yang disebabkan terjadinya pengentalan dan pembentukan lendir sebagai akibat dari pengeluaran bahan seperti kapsul dan bergetah oleh beberapa jenis bakteri, seperti : penggumpalan susu yang timbul tanpa penurunan pH yang disebabkan oleh bakteri Bacillus cereus yang menghasilkan enzim yang mencerna lapisan tipis fosfolipid di sekitar butir-butir lemak dan kemungkinan butir-butir itu menyatu membentuk suatu gumpalan yang timbul ke permukaan susu. (Buckle,1985).

3. 6 HASIL PERAIRAN DAN PERIKANAN
Ikan dan produk perikanan lainnya merupakan sumber hewani yang relative murah dibandingkan dengan sumber-sumber Protein hewani lainnya seperti daging ayam, daging sapi (Pudji rahayu, winiati)
. Ikan segar lebih cepat mengalami kebusukan dibandingkan daging mamalia. Kebusukan ikan mulai terjadi segera setelah rigormotis selesai. Faktor yang menyebabkan ikan cepat busuk adalah kadar glikogennya rendah sehingga rigormotis berlangsung cepat dan pH akhir daging ikan cukup tinggi, yaitu : 6,4-6,6, serta tingginya jumlah bakteri yang terkandung dalam perut ikan. Bakteri proteolitik mudah tumbuh pada ikan segar dan menyebabkan bau busuk hasil metabolisme protein.(Muchtadi,1992).
Pembusukan menyebabkan bahan pangan menurun mutunya bahkan tidak layak dikonsumsi. Hal ini disebabkan karena terjadi penyimpanan sifat sensori (warna, tekstur, bau dan rasa) yang tidak diinginkan serta kemungkinan menyebabkan penyakit. Ada beberapa cara untuk mempertahankan kesegaran ikan diantaranya yaitu dengan memelihara ikan agar tetap hidup dan menurunkan suhu ikan mati. Penanganan ikan hidup ada dua yaitu :
1. Dengan cara pemberokan apabila ikan ditampung di suatu kolam sementara atau ditampung pada berok yang terbuat dari bambu yang dianyam lalu direndam dalam air.
2. Cara lain adalah apabila ikan diangkt ke daerah yang jauh dari tempat penampakan keramba pada umumnya hanya dipikul saja dari satu tempat ke tempat lain. Cara penanganan ikan hidup ini tidak praktis, karena harus sering-sering mengganti air supaya ikan tidak mati. Jumlah ikan dapat dirawat sedikit, sedangkan untuk jumlah ikan yang besar memerlukan peralatan khusus, yaitu aquarium besar dan memerlukan penanganan khusus.(Hadiwiyoto,1983).
Menurut Muchtadi (1992), meskipun dikatakan daging ikan merupakan sumber protein dan lemak, tetapi komposisinya sangat bervariasi antara ikan yang satu dengan lainnya. Adanya variasi dalam komposisi baik jumlah maupun komponen penyusunnya disebabkan karena factor biologis dan alami. Factor biologisnya yaitu jenis atau golongan ikan, umur dan jenis kelamin. Sedangkn factor alami, yaitu semua factor luar yang tidak berasal dari ikan, yang dapat mempengaruhi komposisi daging ikan. Golongan factor ini terdiri atas daerah hidupnya, musim dan jenis makanan yang tersedia.
Secara umum ikan mengandung kadar air cukup besar yaitu berkisar sekitar 65-80%, protein 16-22%, lemak 0,5-10% dan karbohidrat kurang dari 0,1 dan abu 1,2-1,7%. Ikan-ikan kecil yang biasa dikonsumsi biasanya mengandung bahan/komposisi kimia yang hampir sama dan kadar abu yang sedikit berbeda. Ikan mengandung protein dengan asam amino yang terdiri dari lisin metionin yang sangat cocok dikonsumsi dengan nasi. Kedua jenis asam amino tersebut sedikit terdapat di dalam beras dan kacang-kacangan.
Ikan mengandung kalsium yang lebih banyak dibandingkan dengan produk pedaging lainnya yakni 20x lipat. Hal ini sepertinya salah satu penyebab bangsa Jepang mengkonsumsi ikan dalm jumlah yang lebih besar. Disamping produk ini yang dihasilkan oleh ikan juga menghasilkan berbagai jenis vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
Sifat organoleptik hasil perairan yang banyak berhubungan dengan sifat fisik sangat memegang peranan penting terutama untuk menentukan ikan segar dan ikan busuk. Parameter organoleptik produk perairan yang penting adalah bau (odor), citarasa(flavor), Warna (kekerasa). (Syarief, 1986).
Komponen kimiawi daging ikan sangat bervariasi tergantung pada jenis atau spesies, umur, jenis kelamin, dan musim. Ikan mengandung :
1. Air, dalam jaringan daging ikan, air diikat sangat erat oleh senyawa koloidal dan kimiawi sehingga tidak mudah lepas oleh tekanan berat.
2. Protein, kadarnya sekitar 18-20%, nilai dan komposisi asam amino protein ikan sama baiknya dengan niai asam amino mamalia lainnya.
3. Lemak, minyak tuuh ikan terutama dari trigliserida yang berbeda dari pada lemak hewan.
4. Karbohidrat (glikogen), jumlahnya hanya sedikit yaitu 0,05-0,86%. Glikogen merupakan sumber terbentuknya energy pada aktivitas otot. Glikogen dalam daging sifatnya tidak stabil, mudah berubah menjadi asam laktat melalui proses glikolisis.
5. Garam-garam mineral, kandungan yang terbanyak adalah garam-garam fosfat, kalsium, potassium, sodium, magnesium, sulfur, dan khlor. Disamping itu juga terdapat dalam jumlah sedikit adalah zat besi, bromine, mangan, kobal, zink, molybdenum, iodium, tembaga, fluorin, yang digolongkan sebagai makro elemen.
6. Vitamin, bagian-bagian ikan yang dapat dimakan mengandung vitamin A, segala macam vitamin yang termasuk B komplek, vitamin C,D dan E. (Buckle,1987).

Beberapa hasil perikanan lain :
1. Udang
Dalam keadaan segar, udang terlihat mengkilap dan transparan. Udang yang telah mati biasanya cepat sekali menjadi busuk dan warnanya menjadi putih keruh. Gejala yang memberatkan bagi mutu kesehatan udang adalah timbulnya bercak hitam. Bercak hitam ini biasanya timbul antara 2-4 hari pada udang yang langsung diberi es sejak penangkapan. Gejala bercak hitam atau melanosis ini disebabkan oleh kegiatan enzim. Bercak hitam ini adalah senyawa melanin, setelah udang mati enzim oksidatif tyrosin menjadi melanin yang berwarna hitam.(Muchtadi,1992). Komposisi kimia rata-rata daging udang : air, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A dan vitamin B1.
2. Cumi-cumi
Cumi-cumi berbentuk silinder dan berwarna putih keunguan, pada bagian kepala terdapat tangan-tangan penangkap mangsa. Cumi-cumi mampu menghasilkan zat tinta yang berwarna ungu gelap untuk menghindari diri dari kejaran musuh. Bagian badan licin, tidak bertulang(Muchtadi,1992).
Disamping perikanan jenis lain terdapat tida jenis ikan yaitu ikan tak berahang, ikan bertulang rawan, dan ikan bertulang biasa.
a. Ikan tak berahang
Ikan termasuk kelas Agnatha, paling primitive diantara vertebrata yang ada. Contoh ikan ini adalah ikan lampre dan ikan pasuk.
b. Ikan bertulang rawan
Ikan bertulang rawan termasuk kelas Chondrichtyes merupakan kelas ikan yang penting. Adapun ikan ini antara lain : ikan hiu, ikan pari, dan ikan hiu kelinci. Nama ikan tulang rawan ini diambil dari tulang kerangkanya yang tidak berzat kapur, tetapi berwarna putih dank eras yang diamakan tulang rawan. Ikan ini mempunyai sisik mirip gigi dan insangnya mempunyai lubang keluar yang terpisah, yang disebut celah insang.
c. Ikan bertulang biasa
Iakn bertulang biasa termasuk kelas Osteichthyes, merupakan kelas yang paling besar, kelas ikan ini dibagi dua golongan yakni ikan bersirip kipas dan ikan bersirip cuping. Kedua jenis ikan ii termasuk ikan yang mempunyai kerangka tulang biasa, sirip kembar dan sirip tengah, serta mempunyai keeping tutup insng pada kedua sisi kepala untuk melindungi rongga insang yang berisi lima busur insang.
Penangkapan ikan di dunia dapat dibagi menjadi 8 kelas perikanan dunia atau utama yaitu :
1. Spesies demersal yaitu ikan yang tinggal di bawah laut seperti cod dan haddock.
2. Spesies palagik kecil yaitu ikan-ikan kecil yang berenang dipermukaan seperti herring,pechard dan anchovy.
3. Spesies palagik besar yaitu ikan besar yang berenang dipermukaan seperti ikan tuna dan ikan bawal.
4. Spesies anadromus yaitu ikan-ikan yang berpindah dari laut ke air tawar untuk bertelur seperti ikan salmon.
5. Spesies crustaceae seperti udang kecil dan besar serta kepiting (crabs).
6. Jenis mollusca seperti kerang, abalone dan mussels.
7. Jenis chepalopoda seperti octopus dan cumi.
8. Jenis lain seperti ubur-ubur dan krill.(Buckle,1987).

Beberapa jenis hasil perikanan yang banyak ditangkap atau dipelihara antra lain :
a. Ikan air tawar.
Berbagai jenis ikan air tawar dapat digunakan sebagai bahan pangan, sehingga banyak dipelihara di sawah-sawah, kolam, tambak, waduk, atau ditangkap dri sungai, danau, rawa dan sebagainya. Berikut ini adalah contohnya dengan deskripsi tanda-tandanya.
a.1 Ikan mas
Jenis ikan mas sebenarnya adalah ikan karper. Banyak sekali diternakkan orang terutama jenis Cyprinus caio dan Carssius auratus. Hidupnya di air atau tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak begitu deras, misalnya sungai yang airnya agak menggenang, atau danau. Banyak diternakkan di sawah-sawah atau waduk. Makanannya hewan kecil yang terdapat pada lapisan atau lumpur.
a.2 Ikan mujair
Mujair merupakan jenis ikan yang terkenal di Indonesia, negeri asal adalah Afrika, tetapi dapat hidup di Indonesia pertama kali sekitar tahun 1937 oleh seorang petani bernama mujair. Oleh karena itu lalu disebut ikan mujair, ikan ini cepat sekali berkembang biak. Ikan mujair dapat hidup pula di air asin.
b. Ikan laut.
Yang termasuk ikan laut adalah ikan yang hidupnya di muara sungai (pertemuan antara air tawar dan air asin) dan tambak-tambak pantai. Berikut adalah contoh ikan air laut antara lain :
b.1 Ikan tenggiri
tubuhnya tidak bersisik dan warna punggungnya kebiru-biruan tetapi perutnya putih seperti perak. Ikan tenggiri banyak ditangkap untuk dikalengkan, diasinkan atau dipindang. Jenis ikan ini antara lain : Cybium guttatum, C. interuptum, dan lain-lain.
b.2 Ikan bandeng
ikan bandeng banyak disukai karena dagingnya yang empuk dan gurihmeskipun banyak duri nyang kecil, makanannya ganggang kecil.

Proses perubahan pada tubuh ikan terjadi karena adanya aktivitas enzim, mikroorganisme atau oksidasi oksigen. Setelah ikan mati, berbagai proses perubahan fisik maupun kimiawi berlangsung lebih cepat. Semua perubahan ini akhirnya mengarah kepada kepembusukan. Seluruh permukaan tubuh ikan yang sedang mengalami proses pembusukan dipenuhi lendir.
Adapun proses yang terjadi pada tubuh ikan adalah sebagai berikut :

1. Proses Rigor Mortis
Pada saat ikan ditangkap, ikan masih bernafas hingga beberapa waktu kemudian. Saluran jaringan peredarandarah ikan masih mampu menyerap oksigen sehingga proses kimia yang terjadi dapat berlangsung secara aerob (memanfaatkan oksigen). Reaksi aerob yang terpenting adalah reaksi glikogenolisis, yaitu proses perubahan glikogen menjadi asam sitart dengan menghasilkan 30 unit ATP. Selama ikan hidup, ATP yang terbentuk digunakan sebagai sumber energi untuk melakukan berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.
Setelah ikan mati, terjadi aliran oksigen dalam jaringan peredaran darah karena aktivitas jantung dan nkontrol otaknya telah terhenti. Akibatnya, didalam tubuh ikan mati tidak terjadi reaksi glikogenolisis yang dapat menghentikan ATP. Terhentinya aliran oksigen kedalam jaringan peredaran darah menyebabkan terhentinya reaksi anaerob yang tidak diharapkan karena sering mengakibatkan kerugian.
Reaksi anaerob akan memanfaatkan ATP dan glikogen yang telah terbentuk selama ikan masih hidup, sebagai sumber energi, sehingga jumlah ATP terus berkurang. Akibatnya, pH tubuh menurun dan jaringan otot tidak mampu mempertahankan fleksibilitasnya (kekenyalanya). Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah rigor mortis. Untuk memperlambat terjadinya rigor mortis, perlu diusahakan agar kandungan ATP dan glikogen dalam tubuh ikan tetap tinggi, yaitu dengan penanganan yang baik dan benar pada saat maupun setelah penangkapan ikan, misalnya melalui proses pengawetan atau pengolahan.

2. Proses Perubahan Karena Aktivitas Enzim (Autolisis)
Autolisis adalah proses penguraian organ-organ tubuh ikan oleh enzim-enzim yang terdapat didalam tubuh ikan sendiri. Proses ini terjadi setelah ikan yang mati melewati fasew rigor mortis. Selama ikan hidup, enzim-enzim yang terdapat dalam tubuh berasal dari daging (cathepsin), enzim pencernaan (trypsin, chemotrypsyn dan pepsi) atau enzim dari miokroorganisme yang terdapat dalam saluran pencernaan akan membantu proses metabolisme makanan. Enzim-enzim ini selama bekerja selalu dikontrol oleh otak. Dengan demikian, aktivitas enzim selalu menguntungkan bagi kehidupan ikan itu sendiri.
Ketika ikan mati, ternyata enzim-enzim ini masih mempunyai kemampuan untuk bekerja secara aktif, tetapi jaringan otak sebagai sebagai organ pengontrol sudah dapat berfungsi lagi, maka sistim kerja enzim tersebut menjadi tidak terkontrol dan dapat merusak oragan tubuh lainnya, seperti dinding usus, otot, daging, serta mengurangi senyawa komplek menjadi senyawa sederhana. Peristiwa ini lah yang disebut autolisis. biasanya proses autolisis akan selalu diikuti dengan meningkatnya jumlah bakteri, sebab semua hasil penguraian enzim selam proses autolisis merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme lain.
Untuk menhindari terjadinya autolisis, ikan sebaiknya dipanaskan pada suhu 60-80 C dalam waktu relatif singkat (sekitar 5 menit). Proses pemanasan ini lebih dikenal dengan istilah blancing. Tujuannya adalah untuk memnonaktifkan enzim penyebab autolisis. Cara lain adalah menurunkan suhu hingga 0 C, atau lebih rendah lagi, agar aktivitas enzim dapat dikurangi.

3. Proses Perubahan Karena Aktivitas Mikroorganisme
Dalam keadaan hidup ikan dapat dianggap tidak mengandung bakteri yang sifatnya merusak (stril), meskipun sebenarnya pada tubuh ikan banyak sekali dijunpai mikroorganisme. Ikan hidup memiliki kemampuan untuk mengatasi aktivitas mikroorganisme sehingga tidak terlihat selama ikan masih hidup.
Bakteri , merupakan anggota mikroorganisme terbanyak pada tubuh ikan, dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan temperatur hidupnya, yaitu:
a. Bakteri Thermophili
Bakteri ini merupakan golongan bakteri yang dapat hidup dengan baik pada temperatur tinggi (55-80 C). kemampuan hidup optimal pada temperatur 60 C.
b. Bakteri Mesophili
Bakteri ini merupakan golongan bakteri yang dapat hidup dengan baik pada temperatu 20-55 C. kemampuan hidup optimal pada temperatur 37 C.
c. Bakteri Cryophili
Bakteri ini dapat hidup dengan baik pada temperatut 7-20 C. kemamouan hidup optiomal pada temperatur 10 C.
Temperatur lingkungan yang disesuaikan merupakan syarat utama bagi bakteri untuk hidup. Selama ikan masih hidup, suhu tunbuhnya masih cukup rendah untuk menunjang pertumbuhan bakteri secara optimal. Tetapi setelah ikan mati dan proses autolisis berlangsung, suhu tubuh ikan beransur-angsur meningkat sehingga akhirnya akan tercipta suatu kondisi yang cocok untuk pertumbuhan baktri. Adapun jenis bakteri yang umumditemukan pada iakn adalah achromo bacter, Pseudomonas, microccocus dan bacillus. Bakteri-bakteri ini terdapat diseluruh tubuh ikan terutama pada bagian insang, kulit dan usus. Bakteri-bakteri tersebut menyerang tubuh ikan mulai dari insang atau luka-luka yang terdapat pada kulit menuju jaringan tubuh bagian dalam, dari saluran pencernaan menuju jaringan daging dan dari permukaan kulit menuju kejaringan tubuh bagian dalam.

4. Proses Perubahan Karena Oksidasi
Proses perubahan pada ikan dapat juga terjadi karena proses oksidasi lemak, sehingga timbul aroma tengik yang tidak diinginkan. Meskipun bau tengik tidak berpengaruh terhadap kesehatan, bau ini sangat merugikan proses pengolahan maupun pengawetan karena dapat menurunkan mutu dan daya jualnya. Cara mencegah proses oksidasiadalah dengan mengusahakan sekecil mungkin terjadinya kontak antara ikan dengan udara bebas disekelilingnya, yakni dengan menggunakan ruang hampa udara dan pembungkus kedap udar, menggunakan antidioksidan atau menghilangkan unsur-unsur penyebab proses oksidasi.
Dalam perindustrian ikan di wilayah Indonesia masih dikelola secara tradisional dan sederhana. Alat-alat yang digunakan juga sering kali dinilai kurang memenuhi standar mutu yang dinilai baik dalam penangkapan ikan laut. Ikan tetap terawatt dengan baik dianjurkan untuk segera memperlakukan perawatan dengan sebaik-baiknya, sehingga proses pembusukan dapat dicegah. (Hadiwiyoto,1983).
Bagian dalam ikan yang baru disembelih dari hewan sehat biasanya steril. Demikian pula bagian dalam ikan yang baru ditangkap. Kontaminasi kebusukan daging atau ikan biasanya berasal dari mikroorganisme pada permukaannya yang kemudian akan masuk ke bagian dalam daging. Oleh karena itu dalam uji mikrobiologi ikan, pengambilan contoh biasanya dilakukan pada permukaan, yaitu dengan metode oles, dan jumlah mikroba pada permukaan tersebut dinyatakan dalam jumlah koloni per luas cm (Fardiaz,1993).
Ikan segar mudah sekali menjadi busuk, segera setelah penangkapan akan mudah sekali mengalami kekakuan, kemudian diikuti oleh proses pembusukan. Perbedaan ikan segar dan ikan yang sudah rusak(mengalami proses pembusukan) secara visual antara lain sebagai berikut :
a. Ikan yang masih segar mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :
- Warna kulit terang, cerah dan tidak suram
- Bila ikan bersisik, sisiknya masih melekat dengan kuat
- Matanya jernih, tidak suram dan melotot
- Dagingnya segar elastic, bila ditekan dengan jari bekasnya lekas kembali seperti semula
- Baunya tidak memberikan tanda-tanda busuk dan berbau amis
- Tidak terdapat lender di permukaannnya kalaupun ada jumlahnya tidak terlalu banyak
- Ikan tenggelam di dalam air
b. Ikan yang sudah rusak mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :
- Kulitnya nampak tidak cerah tetapi suram
- Bila ikan bersisik, maka sisiknya mudah dilepaskan
- Mata suram, tenggelam ke dalam tempat mata
- Dagingnya tidak segar, lemas, apabila ditekan dengan jari bekasnya jelas kelihatan dan tidak mudah kembali ke posisi semula.
- Berbau busuk dan asam
- Banyak terdapat lendir pada permukaan badannya
- Ikan terapung di atas permukaan air
Oleh karena itu, agar supaya kesegaran ikan terawatt dengan baik dianjurkanuntuk segera melakukan perawatan dengan sebaik-baiknya. Sehingga proses pembusukan dapat dicegah. (Hadiwiyoto,1983).
Ada beberapa factor yang menyebabkan kerusakan pada ikan yang merupakan sifat alami ikan adalah :
a. Adanya enzim dari ikan.
b. Adanya mikroorganisme dari tubuh ikan yang bersifat pathogen.








BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 KESIMPULAN


Bahan pangan secara umum dibedakan atas dua golongan yaitu: bahan pangan nabati dan bahan pangan hewani. Bahan pangan nabati dapat berupa daun, bunga, akar, batang, umbi, buah, biji atau bagian-bagian tanaman yang lain.bahan pangan hewani pada umumnya yang mengandung protein dan lemak.
Kacang-kacangan dan biji-bijian adalah salah satu bahan pangan potensial. Bahan pangan tersebut beserta produk olahannya sangat mudah dijumpai di mana-mana. banyak dari bahan pangan yang berkhasiat untuk kesehatan.
Buah dan sayuran merupakan komoditi pertanian yang sangat mudah mengalami kerusakan (perishable commodities), setelah proses panen dilakukan.
Menurut Soewedo hadiyoto, 1983, Pembagian golongan bahan pangan nabati berdasarkan sifat-sifat biologikbya hanya dapat digolongkan menjadi dua macam:
c. Klimaterik: bahan pangan yang berasal dari hasil-hasil pertanian yang menjelang masak (tua) aktivitas respirasinya turun.
d. Nonklimaterik: bahan pangan yang berasal dari hasil-hasil pertanian yang menjelang masak (tua) aktivitas respirasinya turun.
Gula merupakan salah satu komoditi pangan yang penting. Saat ini sebagian besar industri gula di Indonesia menggunakan bahan baku tebu. Lateks merupakan cairan putih yang disebut getah dihasilkan dari penyadapan pohon karet (Havea Bransienlis) pada keadaan kering disebut karet yang dapat dibentuk berupa lapisan tipis berupa membran. Santan atau santen adalah cairan putih kental yang dihasilkan dari kelapa yang diparut dan kemudian diperas bersama air. Kopi merupakan tanaman yang berasal dari Afrika dan Asia Selatan, dengan tinggi mencapai 5 meter. Daunnya sekitar 5-10 cm panjang dan 5 cm lebar. Bunga kopi yang berwarna putih berbunga bersamaan, buah kopi
Ubi kayu (nama botani: Manihot Esculenta Crantz) ialah tumbuhan tropika dan subtropika dari famili Euphorbiaceae yang terkenal sebagai sumber utama karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.
Telur merupakan sumber protein hewani yang baik, murah dan mudah didapat. Di tilik dari nilai gizinya, sumber protein telur juga mudah diserap tubuh, baik untuk konsumsi anak-anak hingga lansia. Setiap 100 g Susu adalah hasil sekresi dari kelenjer susu hewan mamalia dan buakan kolesterum.
Ikan dan produk perikanan lainnya merupakan sumber hewani yang relative murah dibandingkan dengan sumber-sumber Protein hewani lainnya seperti daging ayam, daging sapi.

5.2 SARAN

Pada praktikum diharapkan agar diperolahnya suatu pengetahuan dasar bagaimana keberadaan bahan pangan dalam berbagai kondisi dengan sifat-sifat fisik dari masing masing bahan..Lingkungan penyimpanan pada keadaan normal Dan pada praktikum kali praktikan belum belum mendapatkan hasil yang sempurna sesuai yang diharapkan. Maka untuk memperoleh hasil yang maksimal, praktikan berikutnya disarankan untuk:
1) Agar mengatur sistematis dari pelaksanaan praktikum.
2) Menjaga kesesuaian antara pelaksanaan dan prosedur kerja yang telah ada.
3) Memahami dasar-dasar pengetahuan bahan hasil pertanian.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1992. Pembudidayaan Tebu di Lahan Sawah dan Tegalan. Jakarta :
Penebar Swadaya.

Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet, dan M. Wootton, 1987. Ilmu Pangan. Jakarta : UI-Press.

Fahmi, Arief. http://abstraksi ta.fti.itb.ac.id/?abstraksi=1&details=1&id=558& tahun =2004

Fardiaz,Srikandi. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta. PT Raja Grafindo

Gountara dan Wijandi. 1975. Dasar Pengolahan Gula. Bogor : IPB

http://dhieeewhe.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Padihttp://id.wikipedia.org/wiki/Padi

http://id.wikipedia.org/wiki/Pepaya

http://library.usu.ac.id/index.php?option=com_journal_review&id=2876&task=viewhttp://iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?mnu=2&id=296

http://id.wikipedia.org/wiki/Lateks

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Mengintip%20Kandungan%20Senyawa%20Santan%20Kelapa&&nomorurut_artikel=144

http://www.hanyawanita.com/clickwok/news/news36.htm

http://www.kampoengcoffee.com/about_coffee.html

Lutony, T.L. 1993. Tanaman Sumber Pemanis. Jakarta : Penebar Swadaya

Muchtadi,R.Tien dan Sugiyono. 1992. Ilmu Gizi. Jakarta. Rineka Cipta

Prof. Dr. Made Astawan, M.S.25 april 2009.penebar swadaya, http://book.store.co.id/Sehat_dengan_Hidangan_Kacang_dan_Biji-bijian_buku_12689.html


Soewodo,Hadiwiyoto dan Soehardi. 1981. Penanganan Lepas Panen. Jakarta.
Penerbit Liberty.

Sutomo, Budi. http://budiboga.blogspot.com/2007/12/tips-mengolah-telur.html

Syarief,Rizal dan Anies Irawati. 1986. Pengetahuan Bahan Untuk Industri
Pertanian. Jakarta .PT Melton Putra
Taufiq Ratule, Muhammad. 2008. TIDAK SEMUA BUAH DAN SAYURAN SEGAR COCOK DISIMPAN DI DALAM KULKAS. Peneliti Teknologi Pasca Panen Pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tenggara.

Winarno, F.G. dan M. Aman. 1981. Fisiologi Lepas Panen. Jakarta : Sastra Hudaya.





.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar